Masih Tentang Ihdad (Berkabung)

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Telah lewat pembahasan tentang pengertian ihdad (berkabung) dan hukumnya. Bila suami yang meninggal, wajib bagi istrinya untuk berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun bila si istri dalam keadaan hamil maka ihdadnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, baik masanya lama atau sebentar. Adapun bila yang meninggal selain suami, maka haram bagi si wanita berihdad lebih dari tiga hari. Waktu tiga hari tersebut hukumnya tidak wajib namun sekedar mubah saja1. Bahkan bila si wanita meninggalkannya karena ingin menyenangkan suaminya maka hal itu lebih baik, sehingga ia tetap berdandan dan berpenampilan bagus di hadapan suaminya.


Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata, “Ihdad karena kematian selain suami tidaklah wajib karena adanya kesepakatan mereka (ahlul ilmi) dalam hal ini, sehingga bila suaminya mengajaknya jima’, tidaklah halal baginya untuk menolaknya dalam keadaan seperti itu.” (Fathul Bari, 3/146)
Berikut ini ada pelajaran dari kisah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha sebagaimana diceritakan oleh putranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
ماَتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لاَ تُحَدِّثُوْا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَنَا أُحَدِّثُهُ. قَالَ: فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، فَقَالَ: ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا، فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا، قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوْا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ، أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوْهُمْ؟ قَالَ: لاَ. قَالَتْ: فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ: فَغَضِبَ وَقَالَ: تَرَكْتِنِي حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي! فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا. قَالَ: فَحَمَلَتْ
Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Maka Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, “Jangan kalian sampaikan kepada Abu Thalhah berita kematian anaknya hingga aku sendiri yang akan menyampaikannya.” Anas berkata: Datanglah Abu Thalhah, Ummu Sulaim pun menghidangkan makan malam untuk suaminya. Suaminya pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuk suaminya dengan dandanan paling bagus dari dandanan yang pernah dilakukan sebelumnya. Hingga suaminya tertarik untuk menggaulinya. Tatkala Ummu Sulaim melihat suaminya telah kenyang dan telah selesai dari hasratnya, ia membuka pembicaraan, “Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu bila ada suatu kaum meminjamkan barang mereka kepada suatu keluarga, kemudian kaum tersebut meminta kembali barang yang dipinjamkannya. Apakah keluarga tersebut berhak menahan barang pinjaman itu?” “Tentunya tidak,” jawab Abu Thalhah. “Kalau begitu, bersabarlah dan harapkan pahala atas kematian putramu,” jelas Ummu Sulaim. Kata Anas: Marahlah Abu Thalhah dan ia berkata, “Engkau biarkan aku hingga berlumuran janabah seperti ini baru engkau ceritakan tentang kematian anakku!” (Keesokan harinya) Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas menceritakan kejadian yang telah menimpanya. “Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian itu,” doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Ummu Sulaim mengandung (dari hubungannya dengan suaminya malam itu).” (HR. Muslim no. 6272)
Kematian anak jelas menggoreskan duka yang teramat dalam. Tapi lihatlah apa yang dilakukan seorang wanita shalihah yang diberitakan sebagai ahlul jannah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam2, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ia tetap berdandan untuk suami serta melayaninya, karena itulah yang wajib dilakukannya sebagai seorang istri.

Apa Saja yang Harus Dijauhi oleh Wanita yang Berihdad?
Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كُنَّا نُنْهَى أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلاَ نَكْتَحِلَ وَلاَ نَطَّيَّبَ وَلاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ. وَقَدْ رَخَصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيْضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ…
“Kami dilarang berihdad atas mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu suami maka istrinya berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Selama ihdad itu kami tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wangi-wangian, dan tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup3 kecuali pakaian ‘ashbin4. Rasulullah memberikan rukhshah bagi kami ketika suci dari haid, apabila salah seorang dari kami mandi suci dari haidnya ia boleh memakai sedikit kust5 azhfar6….” (HR. Al-Bukhari no. 313, 5341 dan Muslim no. 3722)
Menggunakan buhur setelah mandi suci dari haid dibolehkan karena tujuannya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap di sekitar daerah yang terkena darah haid, bukan tujuannya untuk berwangi-wangi. (Al-Minhaj, 10/357)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu menyatakan bahwa hadits di atas menjadi dalil dibolehkannya menggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan aroma tidak sedap bila memang sifatnya bukan untuk berhias atau berwangi-wangi seperti menggunakan minyak pada rambut kepala atau selainnya. (Fathul Bari, 9/609)
Zainab bintu Abu Salamah mengabarkan dari ibunya, Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:
جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا، وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا، أَفَتَكْحِلُهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ- مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ: لاَ.
Datang seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah ia boleh mencelaki matanya?” ”Tidak,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua atau tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 5336 dan Muslim no. 3709)
Masih berita dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لاَ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ مِنَ الثِّيَابِ وَلاَ الْمُمَشَّقَةَ وَلاَ الْحُلِِّي وَلاَ تَخْضَبُ وَلاَ تَكْتَحِلُ
“Wanita yang ditinggal mati suaminya tidak boleh mengenakan pakaian yang mu’ashfar6 dan pakaian yang dicelup dengan tanah berwarna merah (mumasysyaqah). Tidak boleh pula mengenakan perhiasan, tidak boleh menyemir rambut (ataupun memacari kuku), dan tidak boleh bercelak.” (HR. Abu Dawud no. 2304, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كاَنَ يَنْهَى الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا عَنِ الطِّيْبِ وَالزِّيْنَةِ
“Nabi melarang wanita yang suaminya meninggal, memakai minyak wangi dan berhias.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya 5/204 dan Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 7/43)
‘Atha` bin Abi Rabah rahimahullahu berkata, “Adalah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memerintahkan wanita yang suaminya meninggal agar menjauhi minyak wangi/wewangian.” ‘Atha` juga mengatakan, “Wanita yang suaminya meninggal dilarang memakai minyak wangi dan berhias. Maka hati-hati si wanita dari mengenakan setiap pakaian yang bila dilihat akan dikomentari, ‘Ia telah berhias’. Dan tidak boleh baginya mengenakan pakaian yang dicelup, tidak pula perhiasan.” (Riwayat Abdurrazzaq no. 12111)
Dari sejumlah hadits dan atsar di atas menjadi jelas bagi kita bahwa wanita yang ber-ihdad tidak boleh memakai celak, minyak wangi/wewangian, pakaian yang dicelup kecuali kain ashb, semir, pacar kuku, pakaian yang dicelup dengan warna merah (mu’ashfar), dan yang dicelup dengan tanah merah (mumasysyaqah) serta perhiasan.
Berikut ini tambahan penjelasan dari ucapan para ulama tentang perkara yang dilarang bagi wanita yang berihdad.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menyebutkan ada tiga macam yang harus dijauhi wanita yang berihdad.
Pertama: Bersolek/menghiasi dirinya seperti memakai pacar, memakai kosmetik pada wajah, memakai itsmid (celak).
Kedua: Pakaian perhiasan7 seperti pakaian yang dicelup agar menjadi indah misalnya mu’ashfar, muza’far, celupan berwarna merah, dan seluruh warna yang memperindah pemakainya seperti biru, hijau, dan kuning.
Ketiga: Perhiasan seluruhnya seperti cincin dan yang lainnya8. Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Perkataan ‘Atha` rahimahullahu, ‘Dibolehkan memakai perhiasan dari perak karena yang dilarang adalah perhiasan dari emas’, tidaklah benar. Karena larangan yang disebutkan dalam hadits sifatnya umum,9 dan juga perhiasan akan menambah kebagusan si wanita dan memberi dorongan untuk menggaulinya.” (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)
Ibnu Hazm rahimahullahu berkata, “Wajib bagi wanita yang berihdad untuk tidak memakai celak baik karena ada ataupun tidak ada kebutuhan darurat, sekalipun hilang kedua matanya (buta). Larangan ini berlaku malam dan siang.” (Al-Muhalla, 10/63)
Ada hadits yang membolehkan memakai celak bila darurat sebagaimana berita dari ibu Ummu Hakim bintu Usaid. Ketika suaminya wafat dan masih dalam masa ihdad ia mengeluhkan sakit pada matanya, maka ia pun memakai celak itsmid. Lalu diutusnya bekas budaknya untuk menanyakan hal itu kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pun berkata, “Janganlah engkau bercelak dengannya kecuali bila memang terpaksa karena sakit yang sangat. Engkau boleh bercelak pada malam hari namun harus engkau hapus pada siang hari”. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهُِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ وَقَدْ جَعَلْتُ عَلَى عَيْنِي صَبْرًا، فَقَالَ: مَا هذَا يَا أُمَّ سَلَمَةَ؟ فَقُلْتُ: إِنَّمَا هُوَ صَبْرٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ فِيْهِ طِيْبٌ. قَالَ: إِنَّهُ يَشُبُّ الْوَجْهُ فَلاَ تَجْعَلِيْهِ إِلاَّ بِاللَّيْلِ وَتَنْزِعِيْهِ بِالنَّهَارِ وَلاَ تَمْتَشِطِي بِالطِّيْبِ وَلاَ بِالْحِنَاءِ فَإِنَّهُ خِضَابٌ. قَالَتْ: قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَمْتَشِطُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: السِّدْرُ تُغَلِّفِيْنَ بِهِ رَأْسَكِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku ketika Abu Salamah wafat sementara aku memakai shabr (jenis celak) pada kedua mataku. Beliau bertanya, “Apa yang kau pakai pada matamu, wahai Ummu Salamah?” “Ini cuma shabr, wahai Rasulullah, tidak mengandung wewangian,” jawabku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Shabr itu membuat warna wajah bercahaya/menyala, maka jangan engkau memakainya kecuali pada waktu malam dan hilangkan di waktu siang. Jangan menyisir (mengolesi) rambutmu dengan minyak wangi dan jangan pula memakai hina` (inai/daun pacar) karena hina` itu (berfungsi) sebagai semir (mewarnai rambut dan kuku, –pent.).” Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu dengan apa aku meminyaki rambutku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Daun sidr dapat engkau pakai untuk memolesi rambutmu.” (HR. Abu Dawud no. 2305)
Akan tetapi hadits ini dha’if jiddan (sangat lemah) karena sanadnya munqathi’ (terputus) dan di antara para perawinya ada orang-orang yang majhul. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud.
Dengan demikian, larangan memakai celak merupakan larangan yang mutlak sekalipun wanita tersebut sedang menderita sakit pada kedua matanya. Adapun pembolehan memakainya ketika malam lantas dihilangkan pada siang hari, sandarannya adalah hadits yang sangat lemah sebagaimana diterangkan di atas. Kalaupun ada keluhan sakit pada mata, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan obat-obatan selain celak yang bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit tersebut dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala? Seperti obat tetes mata, salep, dan selainnya. Bila demikian, tidak ada alasan bagi yang berihdad untuk memakai celak dengan dalih sakit mata karena sakit mata Insya Allah bisa diobati dengan obat-obatan yang lain. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Al-Imam Malik rahimahullahu menyatakan bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya boleh berminyak dengan zaitun dan semisalnya selama tidak mengandung minyak wangi. Beliau juga berkata, “Wanita yang sedang berihdad karena kematian suaminya tidak boleh mengenakan perhiasan sedikitpun baik berupa cincin, gelang kaki atau yang selainnya.” (Al-Muwaththa`, 2/599)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Seluruh yang dipakai wanita sebagai perhiasan dalam rangka mempercantik diri tidak boleh dipakai oleh wanita yang sedang berihdad. Ulama dalam mazhab kami tidak menyebutkan permata jauhar, yaqut, dan zamrud, namun semuanya itu masuk dalam makna perhiasan. Wallahu a’lam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 3/119)
Dalam Majmu’ Fatawa (17/159), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menjelaskan keharusan wanita yang berihdad untuk tidak berhias dan memakai wewangian pada tubuh serta pakaiannya. Ia harus berdiam dalam rumahnya, tidak boleh keluar di siang hari kecuali ada kebutuhan dan tidak boleh pula keluar di waktu malam kecuali darurat. Ia tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh mewarnai rambut dan kukunya dengan inai atau selainnya.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata, “Dari ucapan Ummu ‘Athiyyah, ‘Kami tidak boleh memakai wewangian’ menunjukkan haramnya minyak wangi bagi wanita yang sedang berihdad. Yang terlarang di sini adalah segala yang dinamakan wewangian dan tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini.” (Nailul Authar, 6/346)
Dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/720-721), Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa di antara yang dilarang bagi wanita yang berihdad adalah, “At-tahsin yaitu mempercantik diri dengan memakai hina` (inai/daun pacar) atau dengan bunga mawar, pemerah pipi/bibir, celak, atau yang lainnya. Apa saja yang dapat mempercantik (anggota) tubuhnya, tidak boleh dipakainya sampaipun membaguskan kuku dengan kutek misalnya. Apa saja yang teranggap mempercantik dan memperbagus dirinya tidak boleh dipakai/digunakannya (sampai selesai ihdadnya, –pent.).”10

Yang Tidak Terlarang bagi Wanita yang Sedang Berihdad
Tidak dilarang baginya untuk memotong kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, mandi dengan daun bidara, atau menyisir rambut karena tujuannya untuk kebersihan bukan untuk berwangi-wangi/berhias. (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)
Demikian pula mencium minyak wangi karena bila sekedar mencium tidaklah menempel pada tubuh. Sehingga bila seorang wanita yang sedang berihdad ingin membeli minyak wangi, tidak menjadi masalah bila ia menciumnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)
Tidak diharamkan baginya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mubah dan dibolehkan pula baginya berbicara dengan laki-laki sesuai keperluannya, selama ia berhijab. Demikianlah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh para wanita dari kalangan sahabat apabila suami-suami mereka meninggal. (Majmu’ Fatawa libni Taimiyah, 17/159)

Bagaimana bila Perhiasan Sudah Ada pada Tubuhnya Saat Suaminya Meninggal?
Bila si wanita dalam keadaan berperhiasan saat suaminya meninggal dunia maka ia harus melepaskannya, seperti gelang dan anting-anting. Adapun bila ia memakai gigi emas (gigi palsu dari emas) dan tidak mungkin dilepaskan maka tidak wajib baginya melepasnya, namun ia upayakan untuk menyembunyikannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)

Hikmah Larangan Wanita Mengenakan Perhiasan dan Sebagainya saat Berihdad karena Kematian Suami
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Hikmahnya adalah untuk menghormati hak suami dalam masa ‘iddah karena meninggalnya, hingga tidak ada seorang pun yang berkeinginan untuk menikahi si wanita dalam masa ‘iddah tersebut. Adapun bila si wanita ber-’iddah karena bercerai dengan suaminya yang masih hidup, tidaklah wajib baginya menjauhi hal-hal tersebut karena suaminya masih hidup (tidak ada kewajiban ihdad, –pent.). Seandainya ada seseorang ingin berbuat melampaui batas pada si wanita (istrinya) dalam masa ‘iddah tersebut dan bermaksud meminangnya misalnya, niscaya sang suami dapat mencegahnya (karena selama dalam masa ‘iddah dialah yang paling berhak terhadap si wanita -pent.11). Inilah, wallahu a’lam, hikmah mengapa seorang istri harus berihdad dalam masa iddahnya yang disebabkan kematian suami, dan tidak wajib dilakukannya dalam masa iddah yang disebabkan cerai hidup dengan suaminya.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723)

Kebiasaan Memakai Pakaian Hitam saat Berkabung
Memakai busana hitam saat berkabung/menjalani masa ihdad, tidak keluar ke teras/halaman rumah, tidak naik ke teras atas rumah (balkon), tidak mau melihat bulan saat purnama dengan anggapan karena bulan adalah laki-laki dan berbagai anggapan khurafat lainnya, merupakan perkara yang tidak disyariatkan. Bahkan termasuk bid’ah bila si wanita melakukannya dengan niat ta’abbud (beribadah). Demikian penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723-724)
Selesailah apa yang dapat kami sampaikan kepada pembaca tentang masalah ihdad. Walhamdulillah, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Maksudnya berihdad karena kematian selain suami tidaklah wajib, adapun waktu tiga hari hanyalah sekedar pembolehan.
2 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوْا: هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ، أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
“Aku masuk ke dalam surga, lalu aku dengar suara orang berjalan, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Mereka menjawab, “Al-Ghumaisha` bintu Milhan, ibu Anas bin Malik.” (HR. Muslim no. 6270)
Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata, “Ummu Sulaim namanya Ar-Rumaisha` dan Al-Ghumaisha`. Namun yang masyhur Al-Ghumaisha`. Sedangkan Ar-Rumaisha nama Ummu Haram saudara perempuannya.” (Al-Minhaj, 15/229)
3 Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: لاَ تَلْبِسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًاmerupakan dalil dilarangnya seluruh pakaian yang dicelup dalam masa ihdad, dengan warna apa saja terkecuali apa yang dikecualikan dalam hadits, yaitu ثَوْبُ عَصَبٍ. Demikian yang dinyatakan Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu dalam Subulus Salam (3/314).
Terkadang dari hadits di atas diambil pengertian bolehnya memakai pakaian yang tidak dicelup dalam masa ihdad, yaitu pakaian yang berwarna putih. Sebagian pengikut mazhab Malikiyah melarang pakaian putih yang mahal yang digunakan untuk berpenampilan, demikian pula warna hitam yang bagus. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-‘Iddah)
4 Kain bergaris dari Yaman yang diikat benang tenunnya kemudian dicelup, setelahnya ditenun dalam keadaan terikat. Hasilnya berupa kain berwarna namun masih tersisa warna putih tidak terkena celupannya (Fathul Bari, 9/608). Pada kain ini ada warna hitam dan putih. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ’Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-’Iddah)
5 Semacam buhur/dupa/wewangian. (Fathul Bari, 1/537)
6 Sebagian ulama mengatakan, Azhfar adalah nama kota yang ada di Yaman. Ada pula yang mengatakan nama buhur. (Fathul Bari, 1/537)
6 Yaitu pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (safflower). Menurut Asy-Syaukani, warnanya menjadi merah sebagaimana dalam Nailul Authar (syarah hadits 560, Kitabul Libas, Bab Nahyur Rijal ‘anil Mu’ashfar…). Sedangkan menurut sebagian sumber, terkadang menjadi kekuningan. (ed)
7 Bila dikatakan, “Ini pakaian biasa”, berarti tidak wajib untuk ditinggalkan, boleh dikenakan selama ihdad, walaupun pakaian tersebut memiliki model atau berwarna/bercorak. Tapi bila dikatakan, “Ini pakaian untuk berhias”, berarti wajib dijauhi selama ihdad, baik pakaian tersebut meliputi seluruh tubuh atau hanya untuk menutupi sebagiannya seperti celana panjang, rok, syal, dan sebagainya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)
8 Sama saja baik perhiasan itu dikenakan pada kedua telinga, pada kepala, leher, tangan, kaki atau di atas dada, seluruh macam perhiasan tidak boleh dikenakannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)
9 Dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang telah disebutkan di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
… وَلاَ الْحُلِّي…
“(Wanita yang suaminya meninggal tidak boleh)… mengenakan perhiasan….”
10 Batasan berhias atau tidak berhias kembalinya kepada ’urf (adat kebiasaan) setiap zaman dan tempat. Sehingga tidak bisa diberi ketentuan pakaian yang bentuknya bagaimana dan penampilan bagaimana yang teranggap berhias. (Taisirul ‘Allam, 2/354)
11 Sebagaimana Allah k berfirman:
وَبُعُوْلَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا
“Dan suami-suami mereka paling berhak merujuki mereka dalam masa ’iddah tersebut, jika mereka menghendaki ishlah.” (Al-Baqarah: 228)

Sumber: asysyariah.com

Baca juga: Ihdad (Berkabung) Bagi Wanita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s